JOB VACANCY

It takes immediate “Country Focal Point”

Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) is a national network led and managed by the community (sex workers). OPSI has members in 19 provinces in Indonesia (Aceh, North Sumatera, West Sumatera, Riau, Bengkulu, Bangka belitung, Jambi, South Sumatera, Lampung, Banten, DKI Jakarta, West Java, Central Java, Yogyakarta, East Java, Bali, Nusa South East, South Kalimantan, and North Sulawesi) in HIV prevention efforts; Capacity building through empowerment, advocacy and fulfillment of human rights for sex workers in Indonesia.

PITCH is a strategic partnership between Aidsfonds, the International HIV / AIDS Alliance (IHAA), and the Dutch Ministry of Foreign Affairs.

Country Focal Point will support the program in 9 countries by supporting local communities, facilitation, strategic leadership in advocacy and policy and supervising national PITCH programs.

Placement: Jakarta

Please click the file below for more information

Job Vacancy

LOWONGAN KERJA

Dibutuhkan Segera “Country Focal Point”

Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) adalah jaringan nasional yang dipimpin dan dikelola oleh komunitas (pekerja seks). OPSI memiliki anggota di 19 provinsi di Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Bangka belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara) dalam upaya penanggulangan HIV; peningkatan kapasitas melalui pemberdayaan, advokasi dan pemenuhan Hak Asasi Manusia bagi pekerja seks di Indonesia.

PITCH adalah kemitraan strategis antara Aidsfonds, International HIV/AIDS Alliance (IHAA), dan Kementerian Luar Negeri Belanda. Program ini bertujuan untuk memerangi AIDS di 9 (sembilan) negara yang paling terkena dampak HIV dengan fokus pada populasi kunci, perempuan dan anak perempuan.

Country Focal Point akan mendukung program ini di 9 negara dengan mendukung komunitas lokal, melakukan fasilitasi, kepemimpinan strategis dalam advokasi dan kebijakan serta mensupervisi program-program PITCH nasional.

Penempatan : Jakarta

Silahkan klik file dibawah untuk informasi lebih lanjut

Job Vacancy

Pertemuan dengan Mitra BTG

Bridging the gaps (BTG) mengadakan pertemuan untuk mitra BTG pada tanggal 27 – 29 Juni  2017 yang lalu di Amsterdam. OPSI sebagai salah satu mitra BTG juga menghadiri kegiatan ini, yang diwakili oleh Benny dan Nurlela.

Ada 10 Negara yang terlibat dalam pertemuan ini (Indonesia, Myanmar, Vietnam, Kenya, Mozambique, Nigeria, Uganda, Ukraine, Kyrgyztan, Zimbabwe)

_S8A6737

Naah saya ingin menuliskan proses kegiatan tersebut selama 3 hari

Tanggal 27 Juni 2017

_S8A6574

Kegiatan di awali dengan pengenalan yang difasilitasi oleh fasilitator kegiatan. Dilanjutkan dengan membuat aturan kelas.

Sesi dilanjutkan dengan harapan setiap peserta dengan mengisi beberapa pertanyaan. Pertanyaan antara lain :

  1. Apa yang dilakukan oleh organisasi anda yang cukup berhasil?
  2. Mimpi organisasi anda
  3. Apa yang membuat organisasi anda unik?
  4. Pembelajaran apa yang akan diambil selama training.

Sesi selanjutnya diisi oleh Ellyana tentang Monitoring dan Evaluasi. Metode yang digunakan adalah mengisi quisioner. Setelah mengisi quisioner tentang pemahaman peserta tentang Monitoring dan Evaluasi dilanjutkan sosialisasi tentang BGT dan PITCH oleh ester.

Perbedaan BTG dan PITCH.

BTG           : Penyedian Layanan dan Advokasi

PITCH        : Lobby dan Advokasi

Tujuan dari proyek BTG adalah memperkuat komunitas baik itu komunitas Pekerja Seks, MSM dan IDU. Serta penguatan Hak Asasi Manusia.

Long Term Goals BTG dan PITCH sama sama mengangkat isu penguatan komunitas dan advokasi, penurunan infeksi HIV (Stigma dan diskriminasi) serta Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi.

Sessi dilanjutkan dengan Monitoring dan Advokasi. Kata kunci dalam M dan E adalah :

Mengetahui dan menunjukkan serta menunjukkan apa yang kita lakukanan yang mengakibatkan dampak yang baik.

Enam langkah M dan E :

  1. Melihat kebutuhan
  2. Menulis pertanyaan (Guideline)
  3. Informasi apa yang dibutuhkan
  4. Metodelogi (cara mengumpulkan data)
  5. Siapa yang mengumpulkan data
  6. Penggunaan data

Sebelum makan siang, fasilitator memberikan peran kepada peserta untuk tiga hari kedepan, peran tersebut adalah :

  • Menulis Blog tentang kegiatan
  • Memberi umpan balik
  • Review Materi dengan cara menyenangkan
  • Relawan untuk wawancara media

Setelah makan siang, semua peserta di bagi 3 kelompok untuk sharing pengalaman. Ada tiga topik yang dibahas :

  1. Pengumpulan data oleh PE (pengalaman dari KESWA Kenya)
  • Setiap data yang diambil di lapangan mengunakan peran PE dari komunitas.
  • Setiap data yang terkumpul dilaporkan kepemerintah pertiga bulan sekali.
  • Review program dilakukan 3 bulan sekali di tingkat Nasional sedangkan di tingkat lokal dilakukan 1 bulan sekali.
  • PE melakukan penjangkauan dengan mengisi beberapa form. Form tersebut berisikan : Ada nama layanan, Identitas PE (nama asli atau nama panggilan) dan bersifat rahasia.
  • Segala aktivitas yang dilakukan selalu melibatkan komunitas.
  • Setiap satu lokasi dihendel oleh 1 PE.
  1. Monitoring dan Evaluasi (Vietnam)
  • Restra dilakukan 5 tahun sekali.
  • Restra yang dibuat sesuai kebutuhan Populasi Kunci tidak hanya terfokus kepada Pekerja Seks.
  • Keterlibatan eksternal dalam melakukan M dan E yang dilakukan.
  1. Kebutuhan Data (Narusia AIDSFONDS)
  • AIDSFONDS melakukan Assesment kebutuhan Populasi kunci di 5 negara dengan isu kekerasan dan Layanan.
  • Ada 80 pertanyaan pada saat Assesment.
  • Data yang sudah terkumpul bisa menjadi alat advokasi kepada pemerintah serta Donor

 

Tanggal 28 Juni 2017

_S8A6645

Sessi Lobby dan Advokasi.

Sebelum melanjutkan materi lobby dan advokasi dilakukan praktek/Games bagaimana cara melakukan lobby.

Sessi lobby dan advokasi di sampaikan oleh biljana selaku pemegang proyek PITCH AIDSFONDS.

Tujuan dari lobby dan advokasi salah satunya adalah mempengaruhi kebijakan. Dalam mempengaruhi kebijakan ada beberapa hal yang diperhatikan :

  • Lobby dan advokasi
  • Sistem yang disengaja untuk merubah kebijakan dengan melibatkan penerima manfaat
  • Mengumpulkan teman
  • Mempengaruhi sikap/perilaku
  • Lobby tidak hanya untuk stakeholder tapi untuk semua intansi, contoh BANK
  • Mengubah perilaku stakeholder tidak hanya terfokus dengan kebijakan saja
  • Melakukan analisis stakeholder

Aktivism adalah aksi yang disengaja untuk merubah perubahan Contoh : kampanye, demo, aksi damai, dll.

Prinsip Advokasi :

  • Mempengaruhi orang untuk percaya kepada kita.
  • Siapa yang melakukan Advokasi.
  • Terbuka untuk segala hal (baik itu kesulitan).
  • Melayani
  • Berbasis pada kekuatan

Sharing lapangan oleh 3 negara.

  1. Zimbabwe
  • Membuat kartu : langkah langkah ketika ditangkap.
  • Membuat website untuk diisi oleh Pekerja Seks (Kasus).
  • Membuat form sebagai alat pengumpulan data sebagai bahan advokasi kepada stakeholder.
  • Tidak mengunakan Pekerja Seks tetapi Populasi Kunci.
  1. Laporan CEDAW (Mitra Aidsfonds)
  • Sosialisasi CEDAW
  • Bagaimana membuat laporan CEDAW
  • Tantangan membuat CEDAW
  1. SWIT (NSWP)
  • Sosialisasi SWIT
  • Manfaat SWIT
  • SWIT tidak hanya diberikan kepada penerima manfaat tapi juga diberikan kepada stakeholder

Sesi Introgasi Polisi oleh Misela dari Mitra AIDS FONDS.

Tujuan introgasi adalah untuk mencari kebenaran (versi Polisi).

Teknik introgasi yang sering digunakan oleh polisi :

  • Sikap simpatik
  • Kemiripan
  • Outoritas
  • Self Image
  • Rasa takut diciptkan
  • Shartage (teknik paksaan)
  • Kekuatan pengulangan
  • Legitimize
  • Tukar menukar

Kegiatan turun lapangan ke tempat bekerjanya Pekerja Seks Perempuan di RED LIGHT DISTRIC. Beberapa hal yang didapat adalah :

  • Perempuan Pekerja Seks melakukan aktivitasnya berada di belakang jendela yang berwarna merah.
  • Setiap PS mempunyai kebebasan memilih pelanggan.
  • Sebelum terjadi eksekusi, dilakukan komunikasi dengan pelanggan baik itu dengan kesepakatan harga maupun berapa lama melakukan hubungan seks dengan PS. Apabila kesepakatan tersebut, didalam kamar sudah ada tombol untuk memanggil keamanan.
  • Tantangannya adalah tentang registrasi, PS enggan melakukan registrasi karena data yang diserahkan secara otomatis terlink dengan intansi lainnya, artinya kerahasian pekerjaan mereka terbongkar
  • Tantangan tersebut masih dalam proses advokasi yang dilakukan oleh PROUD selaku NGO.

Tanggal 29 Juni 2017

_S8A7091

Sesi Mobilisasi Komunitas.

Sebelum sessi dimulai, Sally mensosialisasikan agenda International AIDS Conference 2018. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 23 – 27 July 2018 di Amsterdam. Thema yang diangkat adalah bongkar hambatan, ciptakan jembatan.

Sally menginformasikan kepada mitra AIDSFONDS untuk mealokasikan dana kegiatan 2018 untuk kegiatan International AIDS Conference 2018 di amsterdam.

Sessi mobilisasi komunitas menggunakan metode sharing pengalaman sukses dalam melakukan mobilisasi komunitas oleh 3 negara.

  1. Zimbabwe
  • Mengundang komunitas dengan memanfaatkan buadaya yang sudah tercipta yaitu Coffe Morning.
  • Mengundang dengan metode Snow ball menggunakan media sosial.
  • Tidak hanya komunitas yang diundang tetapi stakeholder juga diundang dalam coffe morning.
  1. Kyrgyztan
  • Tempat untuk mengumpulkan komunitas ditentukan oleh komunitas itu sendiri.
  • Tidak menggunakan metode formal.
  • Tidak terfokus dengan jumlah yang datang
  • Peer to peer
  • Memanfaat hari besar
  1. Kenya
  • PS masih ilegal
  • Dalam melakukan mobilisasi komunitas yang dilakukan adalah membuat akademi PS.

Pelatihan HAM dan Paralegal OPSI NTT

IMG_20170418_100302

Pada tanggal 18 – 20 April yang lalu, OPSI Nasional kembali memberikan dukungan kepada OPSI Provinsi, tepatnya untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Apa sih dukungannya ? “Pelatihan HAM dan Paralegal untuk OPSI NTT”.

Yaa,, kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dengan melibatkan teman-teman pekerja seks (PS) di kota kupang sebanyak 14 orang dengan komposisi 8 orang perempuan, 2 orang transgender, dan 4 orang laki-laki. Kami juga melibatkan LSM setempat untuk memfasilitasi training dalam kegiatan ini kami melibatkan LSM Gerakan Masyarakat Mandiri (Gema) sebagai fasilitator dan LSM Yayasan Tanpa batas (YTB) sebagai note taker. Dan kegiatan ini dikoordinir oleh Kordinator OPSI  Provinsi  NTT

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah membantu  memperluas gerakan bantuan hukum bagi kaum termarjinalkan  dalam pemenuhan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia khususnya Pekerja Seks diwilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Selama prosesnya di hari pertama,  kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris KPA Kota Kupang,  kemudian dilanjutkan dengan pre-test untuk melihat sejauh mana pengetahuan teman-teman PS akan HAM, kemudian fasilitator menyampaikan materi tentang pengertian HAM, Sifat HAM, Prinsip utama HAM, 6 Prinsip Pokok HAM, Fase Perkembangan HAM.

Proses hari kedua (2), fasilitator menyampaikan materi Hukum Dasar dan Paralegal diselingi dengan kerja kelompok

Demikian dihari ketiga (3) fasilitator menyampaikan materi Advokasi dan juga diselingi dengan kerja kelompok dan ditutup dengan post test.

Untuk hasil kegiatannya sendiri, dilihat dari hasil pre dan post test ada peningkatan nilai sebesar 20%.

Tantangan, selama proses kegiatan ini berlangsung fasilitator menemukan beberapa tantangan diantaranya :

  1. Karena baru dilakukan pertama kali, fasilitator kesuitan untuk menemukan cara yang efektif untuk menjadikan suasana kelas menjadi aktif. Sehingga mendapat masukan dari Korprov dan beberapa anggota agar metode diganti menjadi permainan.
  2. Peserta masih kurang aktif dalam menyampaikan pendapat dan juga bertanya.

Organisasi Perubahan Sosial Indonesia