International Aids Conference

Berbagi Pembelajaran dari International AIDS Conference 9

(Durban, South Africa)

untuk Sekretariat Nasional OPSI

 

Media, Pedang bermata Dua

Ini adalah sesi diskusi panel yang berlangsung di Global Village.  Perwakilan komunitas LGBT, pekerja seks dan jurnalis berbicara dalam diskusi ini.  Di awal sesi diceritakan tentang pengalaman seorang aktivits LGBT dari negara Afrika yang mengikuti sebuah konferensi di Washington, Amerika Serikat.  Ia menjalani pengalaman pertama seumur hidupnya untuk mengungkapkan pendapat secara bebas dan ‘aman’ serta terlibat dalam kegiatan konferensi secara bebas sebagai seorang laki-laki gay yang tidak mungkin terjadi di negara asalnya.  Pada saat konferensi ia diwawancarai oleh BBC, CNN dan media-media lainnya, dan ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ketika berita tersebut sampai di negaranya rumahnya dibakar oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Diskusi berlanjut dengan pengamalan perwakilan komunitas pekerja seks yang menunjukkan contoh bagaimana sebuah wawancara dapat dipelintir menjadi sebuah tulisan yang dibuat hanya untuk kepentingan menjual berita.  ‘Kamu berbicara banyak hal tentang kehidupan pekerja seks, dan mereka memberitakan hal lain yang sangat berbeda’ (dengan apa yang kamu ceritakan), demikian kata perwakilan komunitas pekerja seks perempuan dalam panel tersebut.

Seorang jurnalis dari sebuah kantor berita di Afrika Selatan menyampaikan pengalamannya bagaimana meningkatkan kesadaran jurnalis tentang reportase serta penulisan feature tentang komunitas LGBT dan pekerja seks, dan tantangan yang ia lihat selama ini terjadi ketika sebuah berita ditulis tanpa sensitivitas jurnalis tentang isu yang dihadapi komunitas LGBT dan pekerja seks.  Pemberitaan yang positif dan akurat dapat membentuk opini publik yang positif pula, sebaliknya tulisan yang membawa pesan-pesan negatif sangat berperan dalam melanggengkan stigma dan diskriminasi.  Hal yang terakhir ini yang paling sering terjadi.

Di sesi ini dibicarakan tentang tips-tips untuk komunitas LGBT dan pekerja seks ketika melakukan wawancara:

Kita selalu punya hak untuk memberikan (atau tidak memberikan) persetujuan/consent untuk:

  • diwawancarai;
  • menggunakan nama asli atau nama samaran;
  • menggunakan foto atau tidak; memilih pertanyaan untuk dijawab (atau tidak dijawab);
  • meminta ‘talking points’ sebelum wawancara dilakukan atau point-point wawancara dari jurnalis media, terutama untuk wawancara langsung/live di televisi -serta berhak tidak menjawab apapun yang ditanyakan di luar talking points tersebut;
  • membuat persetujuan dengan jurnalis untuk memberikan tulisan tersebut kepada kita sebelum tulisan tersebut dicetak atau dimuat di media daring/online dan kita berhak mengklarifikasi atau mengajukan keberatan untuk penulisan yang tidak akurat;
  • tidak terbebani dengan alasan tenggat atau deadline yang biasanya digunakan sebagai alasan oleh jurnalis untuk tidak memberikan hasil tulisannya sebelum diterbitkan kepada kita.

Lebih jauh lagi perwakilan pekerja seks di panel ini menyatakan bahwa komunitas bisa bersikap pro aktif untuk mendatangi kantor media, menyampaikan pesan apa yang penting untuk disampaikan terkait komunitas, serta mengangkat isu terkait komunitas dan bagaimana reportase dan framing berita dapat membantu komunitas ini mengatasi masalahnya.  Media memang pedang bermata dua yang dapat merusak dan mematikan, namun media juga dapat menjadi alat untuk adokasi, menjembatani antara komunitas dan masyarakat yang lebih luas, mengangkat kerja-kerja dan peran-peran positif komunitas, mempromosikan hak-hak komunitas, dan meningkatkan sekutu untuk kerja-kerja advokasi berbagai isu yang dihadapi komunitas pekerja seks, LGBT dan komunitas lainnya.

Kutipan menarik dari pidato pembukaan konferensi Charlize Theron, aktris peraih Oscar asal Afrika Selatan (Charlize adalah UN messenger of peace dan merupakan pendukung kegiatan-kegiatan organisasi masyarakat sipil yang bergerak di isu HIV):

‘Alasan utama kita belum bisa mengalahkan epidemi sampai saat ini dapat disederhanakan ke satu fakta:  kita menghargai satu nyawa lebih dari yang lain.  Kita menghormati laki-laki lebih dari perempuan.  Cinta ‘straight‘ lebih dari cinta ‘gay‘.  Kulit putih lebih dari kulit hitam.  Orang kaya lebih dari orang miskin.  Orang dewasa lebih dari remaja.

HIV tidak hanya ditransmisikan oleh hubungan seksual saja.  HIV ditransmisikan oleh seksisme, rasisme, kemiskinan dan homofobia.  Dan jika kita hendak mengakhiri AIDS, kita harus menyembuhkan terlebih dahulu penyakit yang ada di hati dan di pikiran kita.’

Tautan full speech dari Charlize Theron dapat dilihat di http://mg.co.za/article/2016-07-19-charlize-theronits-time-we-face-the-truth-about-the-unjust-world-we-live-in

 

Research Literacy

Booth ini terletak di Global Village, disponsori oleh AVAC, sebuah organisasi yang menggunakan edukasi, analisis kebijakan, advokasi dan jejaring kolaborasi global untuk mempercepat perkembangan etik pencegahan HIV baru sebagai bagian dari respon komprehensif terhadap epidemi HIV.  Di booth ini rangkaian workshop singkat dibuat untuk komunitas dengan berbagai topik, seperti ‘HIV cure?’; Stakeholders analysis‘; ‘Voluntary Male Circumcision‘; ‘HIV Vaccines‘; dan lain-lain.

Saya mengikuti dua sesi mini workshop yaitu ‘HIV cure?’ dan stakeholders analysis.  Sesi-sesi ini difasilitasi oleh peneliti yang membantu ‘menterjemahkan’ riset-riset yang sedang berlangsung, tantangan etik, manfaat untuk komunitas dan point-point advokasi yang dapat diperjuangkan oleh komunitas dengan proses diskusi yang interaktif dan mudah dimengerti.

Sesi-sesi ini menjadi jembatan penghubung antara peneliti, komunitas, dan pembuat kebijakan yang dalam realita tidak selalu bekerja bersama.  Sesi-sesi ini juga menjadi kesempatan pengembangan kapasitas untuk perwakilan komunitas yang paling terdampak oleh HIV untuk ikut terlibat dalam kerja-kerja riset untuk mendukung advokasi dan terlibat dalam dialog kebijakan dengan pemerintah.  Ada link-link yang dapat diakses kemudian yang berisi alat-alat yang dapat digunakan untuk pengembangan kapasitas secara mandiri oleh komunitas populasi kunci dan yang paling terdampak oleh HIV.

 

Inovasi pada Tes HIV dan Pendekatan-pendekatannya

Ini adalah sesi workshop ilmiah yang berlangsung di Session Room 9 tanggal 20 Juli 2016.

Sesi ini berfokus pada diskusi seputar target UNAIDS 90-90-90 (90 orang mengetahui statusnya, 90 mendapatkan ARV, dan 90 mengalami supresi virus) pada tahun 2020.

Saat ini baru 51% orang yang hidup dengan HIV mengetahui statusnya dan oleh karenanya ada banyak strategi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan tes dan pengobatan.  Untuk ini, sangat perlu memperkuat diagnostik HIV (laboratorium) serta layanan-layanan untuk mengetahui status HIV seseorang dan memastikan ia mengakses layanan untuk mengetahui status supresi virus (viral load).

Alat-alat diagnostik yang ada saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan pasien dalam kontinum perawatan HIV.  Keterbatasan alat-alat diagnostik berkontribusi pada inisiasi ARV yang terlambat karena terbatasnya akses tes CD4 (pada orang dewasa dan tes EID pada bayi; serta inisiasi adherence yang terlambat (perpindahan ARV lini 1 ke lini 2) karena terbatasnya akses terhadap viral load.

Negara-negara di dunia perlu mempertimbangkan bagaimana menyederhanakan tes:  tes sendiri (seperti tes kehamilan, tes diabetes), tes yang dilakukan di rumah atau tes yang dilakukan pada outreach yang dilakukan oleh komunitas (community based testing).  Desentralisasi yang strategis dan penggunaan alat lab sederhana, penggunaan ‘quality assured point of care‘ atau POC, dengan memperkuat jaringan diagnostik nasional termasuk memperbaiki efisiensi tes adalah contoh hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencapai target 90-90-90.

Selain pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan (misalnya community based testing, promosi tes pada laki-laki), ada juga pendekatan yang harus ditinggalkan. Sudah saatnya meninggalkan tes yang terbukti positivity ratenya rendah.

Sementara itu, justru perlu memperbanyak promosi tes pada kelompok yang positivity ratenya tinggi, seperti pasangan populasi kunci.  Ide penjangkauan pasangan juga dapat dilakukan lebih aktif.  Rujukan pasif terbukti tidak efektif. Rujukan ke tes HIV dapat dilakukan oleh petugas kesehatan, secara kontrak (klien diberi waktu tertentu untuk memberi tahu pasangan, jika batas waktu lewat maka petugas kesehatan yang merujuk pasangan ke layanan tes), atau bersama-sama (klien ditemani petugas kesehatan merujuk pasangan ke layanan tes).

 

Pencegahan HIV untuk Perempuan:  Pilihan-pilihan pencegahan yang berkembang seperti PrEP dan Cincin Vagina (Vaginal Ring)

Ini adalah sesi diskusi panel (berlangsung di Session Room 1, 20 Juli 2016) tentang pilihan-pilihan teknologi pencegahan untuk perempuan.   Belakangan ini berkembang beberapa pilihan pencegahan seperti PrEP, cincin vagina, serta vaksin HIV dan PrEP injeksi yang sampai saat ini masih dievaluasi efektivitas penggunaannya.

Panelis diskusi ini adalah pelaksana proyek pencegahan HIV untuk perempuan-perempuan muda di negara-negara Afrika serta peserta-peserta studi PrEP dan cincin vagina yang rata-rata adalah perempuan muda.  Satu peserta studi juga mengajak pasangan laki-lakinya ikut dalam diskusi ini.  Salah satu pekerja seks juga mengidentifikasikan dirinya sebagai pekerja seks.

WHO telah mengeluarkan panduan tentang PrEP dan merekomendasikannya untuk semua orang yang mempunyai risiko infeksi HIV. Untuk itu, banyak program-program baru saat ini yang berusaha menyediakan PrEP untuk perempuan yang berada dalam risiko terinfeksi HIV.  Vaginal ring adalah salah satu teknologi yang dikembangkan untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan (sebagai kontrasepsi) juga mencegah HIV (sebagai PrEP).

Seorang peserta menyatakan bahwa ia menggunakan PrEP karena ia tidak mau meninggal seperti banyak perempuan-perempuan seumurnya yang ia kenal di negaranya.  Seorang perempuan lain yang merupakan peserta studi menyatakan bahwa penggunaan cincin vagina mudah dan nyaman.  Cincin ini tidak mengganggu hubungan seks (sebagaimana dikonfirmasi juga oleh pasangan seksnya yang hadir di diskusi panel).

Tantangan untuk PrEP dan vaginal ring adalah masih banyaknya stigma dikaitkan dengan seksualitas perempuan, terutama perempuan muda.  Sikap masyarakat memandang seks tabu untuk perempuan dan hal ini sering kali mempengaruhi mereka (perempuan) untuk akhirnya tidak bertanya, berdiskusi, atau datang ke klinik untuk mendapatkan layanan PrEP dan vaginal ring.

Bahasa yang digunakan juga menjadi permasalahan sendiri, dimana peserta studi yang meruapakan perwakilan pekerja seks menyatakan bahwa ia berkali-kali harus bertanya kepada petugas kesehatan tentang cara kerja PrEP karena bahasanya yang menurutnya terlalu kompleks untuk dipahami pekerja seks yang rata-rata memiliki pengetahuan rendah.   Bahasa ‘Keluarga Berencana’ atau family planning -contohnya, tidak cocok dengan remaja yang menggunakan alat kontrasepsi dengan tujuan untuk tidak hamil, dan sama sekali tidak berpikir untuk perencaan keluarga.

Tantangan lain khusus untuk PrEP adalah konsep minum obat ketika kamu tidak sakit.  Banyak orang (termasuk peserta studi) mengalami kesulitan untuk minum obat teratur karena merasa tidak sakit.  Seorang peserta studi menceritakan bahwa ia baru bisa minum PrEP secara teratur setelah satu bulan.

Diskusi panel ini menggaris bawahi pentingnya pengembangan teknologi pencegahan bagi perempuan dan benar-benar mendengarkan suara perempuan dalam proses pengembangan tersebut dan evaluasinya.

 

Mengapa kita harus berjuang untuk dekriminalisasi pekerja seks?

Diskusi ini diselenggarakan di Sex Workers Networking Zone, Global Village.  Yang berbicara pada diskusi ini adalah perwakilan jaringan nasional pekerja seks India; perwakilan dari Scarlet Alliance; dengan mederator koordinator jaringan pekerja seks Asia Pasifik, Kaythi.

Yang menarik dari diskusi ini adalah pengalaman jaringan nasional pekerja seks India yang menuntut keterlibatan dalam dialog kebijakan terkait trafficking dan kebijakan yang terkait dengan pekerja seks.  Jaringan pekerja seks India ini turut membantu mengidentifikasi korban trafficking, dan mengungkapkan kepada pemerintah mereka bahwa mereka adalah pihak yang paling mengetahui tentang trafficking sehingga sangat penting untuk dijadikan mitra kerja (dalam memberantas trafficking).  Seorang pekerja seks perempuan dari Scarlet Alliance yang dibesarkan di New South Wales (NSW adalah negara bagian pertama di Australia yang melakukan dekriminalisasi pekerja seks) menceritakan tentang bagaimana situasi di NWS sebelum dan sesuah dekriminalisasi dilakukan.

Sebelum dekriminalisasi, pekerja seks harus menyogok polisi agar mereka tidak ditangkap.  Mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk menjauhkan mereka dari masalah.  Terjadi banyak korupsi dan pekerja seks rentan terhadap kekerasan.  Di masa itu, pekerja seks dapat mempunyai catatan kriminal jika tertangkap dan ditahan.

Setelah dekriminalisasi, semua catatan kriminal pekerja seks dihapus.  Artinya, seorang pekerja seks dapat apply pekerjaan apapun yang dia inginkan (selain kerja seks) tanpa takut mendapatkan perbedaan perlakuan.  Ia mempunyai hak yang sama seperti warga negara lainnya untuk memilih dan mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.  Ia juga mendapatkan perlindungan ketika ia bekerja sebagai pekerja seks sehingga ia terhindar dari infeksi menular seksual dan kekerasan.

Dalam forum diskusi ini disimpulkan bahwa gerakan-gerakan pekerja seks sebenarnya tidak menuntut legalisasi, tetapi kriminalisasi.  Ada banyak bukti yang menunjukkan dekriminalisasi penting untuk standar kesehatan pekerja seks yang lebih baik.  Beberapa point mengapa kerja seks harus di dekriminalisasi adalah:

Dekriminalisasi menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia, bahwa setiap orang terlahir bebas dan setara dan memiliki hak yang sama.  Dekriminalisasi melindungi pekerja seks dari kekerasan.  Kerja seks tidak serta merta berarti kekerasan, tetapi kriminalisasi yang menempatkan pekerja seks pada risiko yang lebih besar terhadap kekerasan.  Sebagai contoh, setelah Skotlandia menerapkan hukuman kriminalisasi tahun 2007, tercatat pelaporan kasus perkosaan dan kekerasan seksual yang meningkat dua kali lipat.

Dekriminalisasi kerja seks membuat pekerja seks punya pilihan untuk mencari pekerjaan-pekerjaan lain selain kerja seks.  Di banyak tempat di dunia banyak pekerja seks tidak punya pilihan lain karena mereka punya catatan kriminal bekerja sebagai pekerja seks (seperti di diskusikan sebelumnya).

Dekriminalisasi memperbaiki akses pekerja seks ke layanan kesehatan.  Contoh dari NSW menunjukkan bahwa dekriminalisasi justru meningkatkan akses ke kondom (dan jauh lebih tinggi di banding negara bagian lain di Australia dimana terdapat berbagai level kriminalisasi).  Dekriminalisasi juga menurunkan risiko infeksi HIV dan infeksi menular seksual lainnya.  Kriminalisasi justru membuat klien tidak mampu menegosiasikan kondom dengan kliennya.

Dekriminalisasi dapat membantu respon terhadap trafficking (dengan dibebaskannya pekerja seks dari tuntutan kriminal, mereka dapat membantu penegakan hukum untuk kasus-kasus trafficking).  Sebaliknya contoh dari Swedia menunjukkan, tidak terjadi penurunan kasus traficking setelah kriminalisasi dijalankan selama bertahun-tahun.

Dekriminalisasi juga menciptakan lingkungan yang aman untuk pekerja seks. Seperti contoh dari New Zealand dan negara bagian NSW, dimana ada undang-undang tenaga kerja yang inklusif terhadap pekerja seks (NZ) dan penurunan risiko/kecelakaan terkait perkerjaan (NSW).

 

Ditulis oleh : Asti Widihastuti

2018-01-28T04:13:47+00:00 August 2nd, 2016|Berita, HIV & AIDS, Informasi Kesehatan|0 Comments

Leave A Comment