Jangan Lagi Gunakan Kata Pelacur, WTS atau PSK, Tapi Istilah yang Benar: PS atau Pekerja Seks

Penggunaan terminologi tertentu memberikan efek psikologis tersendiri. Selain efek psikologis, sebuah kata, istilah atau terminologi juga dapat memberikan konotasi negatif atau positif, memberikan efek menurunkan derajat seseorang atau kelompok tertentu, karena memunculkan dan menambah stigma buruk.

Kata pelacur atau lonte yang dulu sering digunakan untuk mengidentifikasi pekerja seks, sungguh menambah stigma buruk terhadap profesi yang satu ini. Terminologi ‘pekerja seks’ adalah kata yang lebih tepat dan sesuai dengan kekinian, karena itu sesuai dengan apa yang mereka lakukan yaitu bekerja menjalankan profesi pekerjaannya dengan memberikan layanan seksual.
Kata pelacur sebenarnya tidak bisa dikaitkan hanya pada pekerja seks, karena “melacur” adalah melakukan suatu kegiatan eksploitasi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Seseorang yang bekerja pada suatu perusahaan hanya demi mengeruk gaji yang besar, dan rela melakukan apa saja demi mencapai keinginannya, sebenarnya dikategorikan sebagai seseorang yang melacurkan dirinya kepada korporasi. Bahkan sebuah negara yang sumber daya alamnya dieksploitasi habis-habisan oleh pejabat negara dengan cara memasukkan banyak investor asing, sebenarnya juga negara yang dilacurkan.

Istilah lain untuk pekerja seks yang dulu pernah digunakan adalah WTS (Wanita Tuna Susila). Istilah ini sungguh tidak tepat dan sudah sama sekali tidak boleh digunakan lagi karena jelas mengandung stigma buruk. Terminologi ‘Wanita Tuna Susila’ yang terdapat di dalamnya dianggap sangat merendahkan kelompok pekerja seks, karena tidak semua pekerja seks adalah wanita atau perempuan. Banyak di antara pekerja seks itu adalah laki-laki dan transgender atau waria.

Pun, penggunaan istilah “PSK atau Pekerja Seks Komersil” juga kurang tepat dan bias, karena profesi pekerjaan yang lain juga tidak diembel embeli kata komersial, meskipun memang tujuan utamanya transaksi komersil.

Karena tidak ada istilah pekerja buruh komersil, pekerja kasar komersil, pengacara komersil, dokter komersil, pekerja migran komersil, dll. Sebab yang namanya pekerjaan atau profesi itu sesuai hukum ekonomi itu memang komersil. Untuk kesetaraan, maka kata “komersil” dihilangkan dan tidak digunakan untuk profesi pekerja seks.

Jadi istilah ‘PS atau Pekerja Seks’ jauh lebih tepat dan lebih bermartabat untuk profesi layanan seks ini. Sayangnya, penggunaan istilah PS atau Pekerja Seks ini belum terlalu populer dan menyeluruh.

Ini memang tidak terlepas dari peran media massa, baik media cetak ataupun elektronik di Indonesia. Fakta di lapangan, bahwa media massa masih banyak yang mengabaikan penggunaan terminologi yang tepat untuk redaksional tulisan atau beritanya. Padahal sebagai sumber informasi yang dapat membentuk opini masyarakat, peran media harusnya lebih berimbang dan mengedepankan asas keadilan.

Media jangan hanya sekedar mencari sensasi dan memikirkan keuntungan sepihak demi menaikkan oplah atau rating tayangan semata, tanpa memikirkan beban dampak psikologis dan sosial dari terminologi yang digunakan.

Jadi memang berawal dari media massalah pemicu terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu oleh masyarakat, sebagai buah akibat dari penggunaan terminologi yang tidak bijak dan tidak sense of crisis serta bias. Bahkan dampaknya terjadi penggiringan opini hingga pembodohan secara massal.

Padahal naiknya oplah media cetak dan naiknya rating sebuah tayangan media elektronik sejatinya tidak sebanding dengan beban psikologis dan sosial yang harus dipikul oleh kelompok atau pihak tertentu tersebut.

Jadi, penggunaan terminologi yang tepat, terutama terminologi yang bersifat sensitif, akan sangat bermanfaat bagi banyak orang serta makin mencerdaskan masyarakat.

oleh: mamad
Foto: osisa

2018-01-28T04:39:53+00:00 April 22nd, 2014|Pekerja Seks|0 Comments

Leave A Comment