Pekerja Seks dan Warga Hidup Berdampingan di Sarkem

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah rumah ibadah berdiri di salah satu sudut perkampungan Pasar Kembang alias Sarkem, Yogyakarta. Di pojok lainnya, bisa ditemui sekolah, termasuk anak-anak sekolah yang hilir mudik di gang-gang di perkampungan. Kehidupan di perkampungan ini terlihat berjalan normal layaknya perkampungan lainnya, yang bukan kawasan prostitusi.

“Tidak semua yang tinggal di sini berbisnis esek-esek. Jadi fasilitas seperti masjid dan sekolahan bisa berada di sini sebagai fasilitas warga,” ujar Atong, salah satu warga Sosrowijayan, akhir pekan lalu.

Di kawasan ini pun tidak pernah terjadi penolakan warga atas aktivitas lokalisasi Sarkem. Warga bahkan merasa mendapat tambahan pendapatan dengan membuka warung minuman, rokok, dan makanan.

“Warung selain menjadi mata pencarian juga menjadi tanda bahwa rumah tersebut rumah warga biasa,” ujar Pak Dhe, tukang becak yang juga menjadi penghubung dan pengantar pengunjung lokalisasi.

Tukang becak-tukang becak yang berjajar di sekitar Stasiun Tugu memang biasa mendapat pekerjaan sambilan. Penumpang kereta yang baru datang ke Yogya biasanya menjadi sasaran mereka untuk mendapat uang tambahan.

“Biasanya saya dapat tips dari pengunjung, nah dari mami saya juga dapat. Jadi saya dapat dobel. Soal jumlahnya tidak bisa saya rata-rata, terserah mereka. Tapi biasanya kisaran Rp 50.000,” ujar Pak Dhe.

Menurut salah satu PS yang tidak mau disebutkan namanya, lokalisasi di kota gudeg ini akan selalu tumbuh subur. “Kami selalu membayar pajak setiap bulannya, jadi lokalisasi ini aman dari razia,” kata si PSK dengan yakin.

 

 

SUMBER

This entry was posted in Berita Nasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>