Wali kota Surabaya Tolak Dolly Ditutup, Pemberdayaaan PS Mesti Dilakukan

SURABAYA–Walikota Surabaya Tri Rismaharini menentang keras rencana Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo yang merencanakan penutupan lokalisasi Dolly. Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini, menyebut bahwa penolakannya bukan terkait pembelaan untuk melegalkan adanya prostitusi di Surabaya, melainkan penutupan lokalisasi yang disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara tersebut bukan solusi yang pas.

“Saya sudah bertemu Gubernur Jatim, dan saya sampaikan bahwa tak bisa lokalisasi Dolly ditutup,” terang Risma, Ahad (24/10). Wali kota perempuan pertama di Surabaya tersebut mengaku khawatir jika ditutup maka pekerja seks komersial (PSK) akan ‘berjualan’ di pinggir jalan hingga akhirnya menyebar tak terkontrol. “Itu yang saya tak mau,” ujar Risma.

Menurutnya, penghuni lokalisasi Dolly itu kebanyakan berlatar belakang keluarga miskin. Sehingga akar masalahnya adalah kemiskinan, yang membuat banyak wanita tercebur dalam dunia prostitusi. “Kita harus tahu akar masalahnya. Jika kemiskinan, kita harus tangani itu dulu,” ucap wali kota yang diusung PDIP tersebut.

Risma melanjutkan bahwa pihaknya sudah punya strategi mengatasi masalah sosial terkait adanya lokalisasi Dolly. Ia akan menggunakan pendekatan fisik maupun nonfisik untuk mengurangi jumlah PSK yang berdasar data terakhir petugas Kecamatan Sawahan mencapai 1.050 orang.

“Kalau untuk nonfisik itu, misalnya ya dengan pengajian dan tambahan kegiatan rohani lainnya. Kan ada masjid-masjid di dekat sana itu yang mengadakan kegiatan. Untuk pendekatan nonfisiknya saya belum mau katakan masih rahasia,” katanya berteka-teki.

Risma mengaku tak khawatir dengan kebijakannya yang bakal mengundang kecaman warga Surabaya. Ia mengungkap, 95 persen penghuni wisma Dolly sebenarnya bukan dari Surabaya, melainkan dari berbagai daerah di Jatim. Maka itu, ia menargetkan pada 2011, konsep yang dirancangnya akan dilaporkan kepada Gubernur Jatim, sebagai langkah pengganti penutupan lokalisasi Dolly.

“Intinya kan gimana caranya untuk menertibkan para PSK. Orang kesitu (Dolly) kan memang untuk itu. Nah, konsep yang saya buat itu nanti mempertimbangkan hal itu,” tukas Risma.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo mendesak agar penutupan lokalisasi Dolly segera dilakukan. Karena yang memiliki wewenang adalah Pemkot Surabaya, maka pihaknya akan memberi dukungan dan bantuan jika diminta agar lokalisasi Dolly tak lagi eksis di Surabaya.

“Akar masalah penghuni Dolly bukan melulu kemiskinan, jadi kami akan dorong terus agar Dolly ditutup. Saya terima jika rencana ini ada muatan politis, tapi tujuannya bagus,” tegas anggota Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut.

MAKIN santernya wacana penutupan lokalisasi Dolly membuat Pemkot Surabaya bersikap. Di antaranya dengan memberikan modal dan pelatihan pemberdayaan pekerja seks (PS) di lokalisasi Dolly.

 

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, program ini bertujuan untuk memberikan keterampilan pada PS. Targetnya adalah para PS tersebut bisa “pensiun” dari pekerjaannya.

“Dengan adanya pelatihan keterampilan ini, kami targetkan jumlah PSK akan terus menyusut setiap tahunnya,” ujar wali kota yang diusung PDI Perjuangan itu.

Jumlah PS di Dolly saat ini, berdasarkan data Dinas Sosial kota Surabaya mencapai 750 orang. Dari jumlah itu, pada bulan Februari 2012, Dinsos berhasil mengentaskan 70 PS.

Sementara itu, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri dalam acara worskhop soal penanganan PS di Surabaya, Selasa (12/6) mengatakan, penanganan masalah PS tidak hanya dengan menggusur atau menutup lokalisasi semata. Jika hanya cara ini yang dilakukan, akan muncul persoalan baru yakni dampak sosial bagi PS, mucikari dan warga sekitar.

Salim menegaskan, penanganan dan penyelesaian PS harus mengunakan cara-cara kemanusiaan. ” Kita akan melakukan pendekatan kemanusiaan, bukan dengan cara prevektif,” terang Salim.

Menurut Salim, di Jawa Timur, saat ini terdapat 47 lokalisasi, dengan 1.031 mucikari dan 7.127 PS. Dari jumlah itu, sekitar 5 lokalisasi ada di Surabaya, dengan jumlah mucikari 534 orang dan 2.231 PSK.

 

sumber 1 2

This entry was posted in Berita Nasional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>