FGD Media with Jurnalist

Latar Belakang

Media massa dipercaya mampu membentuk opini publik. Setia pemberitaan media massa tentu membawa pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat yang setiap hari membaca atau menyaksikan pemberitaan. Pengaruh media massa kepada masyarakat ini dapat terwujud dalam berbagai macam, mulai dari pengaruh dari yang positif hingga ke pengaruh negatif. Media massa dipercaya dapat mempengaruhi sikap-sikap tertentu baik yang positif seperti terbangunnya toleransi, solidaritas hingga pandangan-pandangan yang negatif seperti kekerasan, pembentukan stereotipe dan sebagainya.

OPSI telah melakukan penelitian bagaimana jurnalis melihat dan mengangkat pekerja seks di dalam pemberitaan 5 media daring (Kompas.com, Republika.com, Viva.co.id, tempo.co dan detik.com) terkait dengan pembahasan penutupan lokalisasi Gang Dolly dalam periode 1 Juni hingga 30 Juni 2014. Dalam kesimpulannya,  pemberitaan di lima media daring dapat dikatakan memperkuat stigma masyarakat yang selama ini dilekatkan kepada pekerja seks. Sangat sulit untuk melihat upaya dari media tersebut untuk mendorong perubahan cara pandang terhadap pekerja seks.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa hal ini dapat terjadi? Apakah persoalan ini berada di level jurnalis yang tidak mematuhi kode etik jurnalistik? Atau masalah ketidak-telitian dari mereka yang berada di meja redaksi? Namun, mungkin juga kebijakan medianya sendiri yang mengindahkan etika jurnalistik untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Pertanyaan ini sangat penting dipetakan untuk mendapatkan catatan penting dalam upaya OPSI yang berupaya menghapus stigma terhadap pekerja seks di dalam masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, OPSI menyadari pentingnya melakukan advokasi ke media dalam melakukan perubahan. Oleh karena itu, OPSI membangun kerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dalam melakukan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) dengan para jurnalis yang berasal dari lima media daring yang menjadi subyek penelitian. Diskusi ini bertujuan untuk mendapatkan beberapa pertanyaan yang telah disampaikan di atas untuk menjadi bahan untuk menyusun media briefing untuk media.

Proses

20160531_104403 20160531_113604 20160531_121656 (1)

  1. Kegaiatan dibuka oleh Manager Program OPSI dengan memperkenalkan latar belakang berdirinya OPSI, dan setelah itu AJI yang diwakili oleh Mba Hesti memprespektifkan media sebagai penyambung suara bagi kelompok yang tidak memiliki suara untuk bersuara.
  2. Presentasi hasil studi OPSI :
  • Presentasi dari Syaldi tentang pemberitaan dari media tentang pembubaran lokalisasi (dolly), sampel penelitian diambil dari 5 jurnalitik daring yang masuk dalam peringkat 50 besar Alexa.com.
  • Presentasi studi dampak penutupan lokalisasi di 6 kota (Jambi, Malang, Jakarta, Surabaya, Bandung, Papua) disampaikan oleh Benny.
  1. FGD dengan narasumber yang hadir dari beberapa jurnalis media, media yang hadir tergabung dengan Alinasi Jurnalis Independen (AJI).
  • Viva.co.id
  • Trbunnews
  • Suara.com
  • Detik.com
  • Tempo
  • Kompas

Hasil FGD

  1. Media itu tidak bisa berbicara dengan dirinya sendiri, dan kami sangat sulit mrncari korban atau yang memperjuangkan pekerja seks tidak dapat ditemui. “Jurnalis ini pemalas, minta disuapi dan media minta seenaknya aja” ungkap salah satu peserta fgd.
  2. Data dilengkapi dengan visual, misal sebaran pekerja seks setelah lokalisasi ditutup.
  3. Sebenarnya kepala daerah ada yang memiliki pemikiran yang bagus seperti Ahok.
  4. Perlu menentukan Goal dari OPSI: apakah menghapuskan stigma atau menolak penutupan?
  5. Dimedia online tidak ada editor bahasa khusus, apakah bahasa yang digunakan layak apa tidak?
  6. Tidak pernah ada kritik terkait pemberitaan terhadap pekerja seks.
  7. OPSI harus memiliki orang – orang khusus khusus ketika mewakili narasumber untuk di media massa.
  8. Ada wartawan khusus isu kesehatan, sehingga isu paling menarik untuk media atau masyarakat itu terkait dampak penutupan ini perlu dibuka ke publik.
  9. Ada cara untuk menurunkan stigma terhadap pekerja seks, yaitu dengan menjadikan jurnalis sebagai duta dalam menyampaikan ke media lain untuk merubah istilah yang tidak baik, seperti tidak menyebut pekerja seks dengan PSK, bisnis lendir dll.
  10. Pekerja seks bisa membangun kekuatan sebagai fungsi kontrol advokasi.
  11. Tidak semua paham etika peliputan, terutama redatur.
  12. Riset dikemas bagus dan di paparkan pada media.
  13. Tidak ada panduan peliputan prostitusi.

 

2018-01-28T04:15:16+07:00 Juni 8th, 2016|Kabar Seknas, Pekerja Seks|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment