Koperasi dan Usaha Ekonomi Alternative pada Kelompok Pekerja Seks

Pekerja seks telah diakui sebagai pekerjaan yang dilakoni oleh setiap orang (dari berbagai gender) terlepas dari apapun dasar pilihannya. Namun diakui juga ada beberapa pribadi pekerja seks yang belum menerima peran dirinya sebagai pekerja seks sehingga terjadi stigma terhadap diri sendiri.

11703365_868145999920666_5972075841669973954_nStigma, baik dari diri sendiri maupun dari masyarakat merupakan akar persoalan yang menjadi basis yang menciptakan kerentanan bagi pekerja seks. Kerentanan-kerentanan tersebut meliputi; peminggiran, diskriminasi, kriminalisasi, penangkapan, kekerasan dan hal-hal merugikan lainnya.

Situasi ini harus mendapatkan intervensi agar kelompok pekerja seks memiliki pilihan-pilihan terhadap situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain intervensi tersebut akan menjadikan pekerja seks menjadi berdaya. Pemberdayaan juga dilakukan dari aspek ekonomi agar pekerja seks Berdaya secara ekonomi. Pemberdayaan ekonomi bukan hanya pada aspek pengembangan usaha ekonomi alternative. Akan tetapi termasuk juga hal-hal lain terkait dengan pengelolaan keuangan, perencanaan pengeluaran, perencanaan pendapatan tambahan. Semua aspek tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja seks, sehingga mereka memiliki pilihan-pilihan yang mengarah pada kondisi berdaya.

Anggota koperasi, 17 orang Per Juli 2015, yang telah mengikuti penguatan ekonomi 14 peserta, kelompok bisnis sebanyak 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 – 3 orang.

Dalam mengembangkan koperasi ini, direncanakan dan dilaksanakan beberapa kegiatan atau aktivitas. Kegiatan-kegiatan yang masuk dalam strategi pengembangan koperasi ini antara lain adalah:

Pendidikan

Koperasi juga merupakan sarana peningkatan kapasitas bagi anggotanya. Didalam koperasi dilaksanakan serangkaian kegiatan berupa pelatihan, lokakarya dan pendampingan agar anggota koperasi memiliki kemampuan dalam mengelola usaha alternativenya.

Selain itu, penguatan pengelolaan keuangan juga merupakan hal yang penting untuk ditingkatkan kapasitasnya pada anggota koperasi. Mengerti dan mampu mengelola keuangan dengan baik bagi anggota koperasi merupakan salah satu indicator berdaya secara ekonomi.

  1. Pelatihan pengelolaan keuangan, koperasi dan perencanaan Bisnis Tahap Pertama

Tanggal                 : 19 – 20 -26 Desember 2014

Peserta                : 20 participants

Pelatihan dasar untuk penguatan kelompok, membangun kesadaran kritis kelompok untuk merencanakan keuangan, mengelola keuangan dan perencanaan agar tidak terjebak di lintah darat/rentenir. Selain itu membangun rasa kepemilikan dan partisipatif anggota koperasi.

Proses                  :

Pemaparan topic; kerentanan ekonomi, peminggiran-peminggiran dari akses public (pemodalan, pekerjaan, kesempatan berusaha) yang dialami oleh pekerja seks, kekerasan dan akar persoalannya (termasuk kekerasan ekonomi) yang dialami oleh pekerja seks, koperasi sebagai organisasi gerakan ekonomi dan pemberdayaan terhadap pekerja seks.  Tema-tema diskusi ini dibawakan dengan metode diskusi, kerja kelompok dan pemaparan oleh fasilitator.

Topik selanjutnya adalah analisa keuangan rumah tangga, pencatatan keuangan, analisa untung-rugi, pengelolaan keuangan sederhana, perencanaan keuangan.  Dalam topic-topik ini peserta berlatih untuk menyusun laporan keuangan sederhana, mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, tips-tips meningkatkan pemasukan dan memperkecil pengeluaran.

Capaian, yang menjadi capaian:

  1. Terbentuknya kelompok koperasi pekerja seks
  2. Terkumpulnya tabungan simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela anggota koperasi (14 orang)
  3. Terbentuknya rencana bisnis anggota kelompok .

2. Pelatihan Kejuruan (vocational training)

Pelatihan Kejuruan (Vocational Training) merupakan keterampilan yang ditingkatkan guna mendukung usaha ekonomi alternative. Pelatihan kejuruan yang dilakukan juga berdasarkan hasil assessment kepada anggota koperasi dan merupakan kebutuhan dari anggota koperasi.

Langkah-langkah yang dilakukan sebelum dilaksanakan pelatihan kejuruan:

  1. Assessment kebutuhan
  2. Penyiapan materi pelatihan
  3. Pelaksanaan pelatihan
  4. Perencanaan pengembangan pasca pelatihan

Berdasarkan assessment kebutuhan maka disusun pelatihan-pelatihan kejuruan yang dibutuhkan.

Pelatihan Kerajinan Tangan (Handicraft)

 

  1. Rapat Anggota, Pemilihan Pengurus, penyusunan pola kebijakan, (berbarengan dengan pelatihan Management Koperasi, Perencanaan Bisnis dan Strategi Pemasaran)

Struktur pengurus dan pengawas koperasi dan pola kebijakan merupakan hal yang krusial yang harus segera dibangun agar koperasi menjadi kuat. Oleh karena itu Rapat anggota merupakan mekanisme penting dalam menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi koperasi.

Disamping Rapat anggota yang dilakukan untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang penting dan krusial, juga dilakukan penguatan terkait management organisasi, perencanaan bisnis dan strategi pemasaran. Workshop training ini dilakukan tanggal 4-6 Juli 2015 secara maraton.

 Kelompok-kelompok usaha yang terbentuk dari pinjaman koperasi ini adalah:

  1. Toko Ema
  2. Usaha Kerajina tangan dan pulsa
  3. Homecare spa
  4. Cantik online shop
  5. MP Busana
  6. Toko ML
  7. Salon kecantikan

 Harapannya adalah dengan adanya koperasi, maka akan dapat membantu pengembangan bisnis alternative yang dijalankan anggota koperasi dan dapat digulirkan lagi kepada anggota koperasi lainnya.

2018-01-28T04:28:14+07:00 Agustus 10th, 2015|Pekerja Seks|0 Comments

About the Author:

avatar

Leave A Comment