Negara Gagal Melindungi Pekerja Seks dari Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Pekerja seks juga berhak atas perlindungan dari pelecehan seksual seperti halnya mereka yang bekerja pada pekerjaan lainnya. Fakta bahwa seseorang, baik laki-laki, perempuan ataupun transgender merupakan pekerja seks, bukanlah lisensi untuk adanya pelecehan seksual oleh pihak lain.

pelecehan-pekerja-seksMasyarakat di lingkungan sekitar, pelanggan atau pembeli jasa seks, para aparat keamanan yang berwenang, bahkan tidak juga termasuk oleh manajer atau majikan atau mucikarinya di rumah bordil atau tempat jasa layanan seks.

Walaupun mucikari punya relasi kuasa yang lebih besar atas para anak buahnya perempuan pekerja seks, namun mucikari dan pemilik wisma tempat para pekerja seks itu bekerja tidaklah dapat bisa dan bebas berbuat apapun yang dia mau pada para perempuan pekerja seks itu.

Human Right Watch menyatakan, pelecehan dapat terjadi secara verbal dan fisik, termasuk remasan, hingga pemukulan dan penyiksaan oleh para mucikari atau pemilik wisma.
Bahkan banyak kasus yang dilaporkan pula, para pekerja seks kerap mendapatkan pelecehan oleh aparat keamanan saat mereka terjaring razia dan berada dalam tahanan polisi serta penahanan tanpa pengadilan.

Banyak kasus para pekerja seks yang terjaring razia diperlakukan seolah-olah mereka tidak memiliki hak. Bahkan kejadian buruk sering dialami oleh pekerja seks waria yang terjaring operasi ataupun penggerebekan di lokasi-lokasi mangkal.

Aktivis HAM yang membela hak pekerja seks Fais Ichall, mengakui kasus kekerasan dan intimidasi terhadap pekerja seks baik itu perempuan ataupun transgender terus terjadi.

“Masalahnya, laporan soal ini amat minim dan sedikit,” katanya.
Akar persoalan pelecehan hingga tindak kekerasan ini, kata Ichall, adalah tingginya stigma dan persepsi buruk masyarakat terhadap para pekerja seks, baik perempuan ataupun waria.

“Stigma terhadap pekerja seks itu sangat tinggi. Mereka dianggap sebagai orang yang kotor, hina, berdosa, dan lainnya. Sehingga masyarakat dan aparat merasa legal untuk melakukan tindakan pelecehan seks pada pekerja seks itu, ujar pria alumnus Unsyiah Aceh ini.

“Alih-alih dilindungi oleh aparat berwenang, pekerja seks secara rutin menjadi sasaran pelecehan, hingga pemukulan dan penganiayaan. Bahkan yang aku dapati dari hasil assessment, mereka juga mendapatkan tindakan pemaksaan atau perkosaan,” tambah Ichall.

Namun meskipun kasus pelecehan hingga berujung pada tindak kekerasan dan perkosaan ini kerap terjadi, namun banyak pekerja seks yang enggan melaporkan kejahatan terhadap mereka tersebut.

Bahkan yang lebih parah lagi, kata Ichall beberapa pekerja seks yang ditangkap ini sering dipaksa untuk melayani hasrat seks para aparat keamanan ini sebagai bentuk kompensasi untuk kebebasan mereka. “Hal ini sangat merugikan kawan-kawan pekerja seks”, ujar mantan Ketua Violet Grey, Aceh ini.

Kejadian dan kasus pelecehan yang kerap terjadi terhadap pekerja seks ini mencerminkan kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat soal kompleksitas seksual dan keragaman. Meskipun tindakan pelecehan seks secara verbal yg terjadi di tempat umum dapat dipidana. Akan tetapi, masih terdapat pro dan kontra mengenai pasal mana dalam KUHP yang dapat digunakan. Ada yang berpendapat untuk menggunakan Pasal 281 KUHP dan ada juga yang berpendapat untuk menggunakan Pasal 315 KUHP (penghinaan ringan).

Sedang untuk kasus pemaksaan ataupun perkosaan oleh aparat terhadap pekerja seks menunjukan bahwa masih belum terjaminnya perlindungan terhadap pekerja seks dari segala bentuk kekerasan seksual dan perkosaan termasuk faktor keamanan bagi seluruh masyarakat di Indonesia.
Kondisi tersebut diperparah dengan berbagai anggapan salah dan sesat pikir dari masyarakat dan aparat hukum sendiri terkait perkosaan pada pekerja seks ini. Dan ini menjadi bukti kegagalan negara melindungi pekerja seks dari tindak kekerasan seksual.

Untuk itu segenap elemen masyarakat sipil yang masih peduli akan nilai-nilai dan HAM perlu lebih gencar dalam menekan pemerintah dan menyediakan support system untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi pekerja seks ini. Jangan sampai, pekerja seks menanggung sendiri akibat kegagalan sistemik tersebut.

Foto: tribunnews

2018-01-28T04:42:35+07:00 April 10th, 2014|HIV & AIDS, Pekerja Seks|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment